SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA,,,HAL-HAL YANG MENGENAI PENAMPILAN..ISI..TATA LETAK YANG SAYA HIDANGKAN..ITULAH KEMAMPUAN SAYA..LAKUKAN APA YANG ANDA BISA,,






Friday, 22 June 2012

Smk Unggulan NU Mojoagung

SMK UNGGULAN NU MOJOAGUNG LULUS 100 %. SMK UNGGULAN NU MOJOAGUNG LULUS 100 %. SMK UNGGULAN NU MOJOAGUNG LULUS 100 %. SMK UNGGULAN NU MOJOAGUNG LULUS 100 %. SMK UNGGULAN NU MOJOAGUNG LULUS 100 %. Teknik Komputer dan Jaringan

SELAMAT ATAS 
PRESTASI 
YANG TELAH DI RAIH
UNTUK TAHUN INI







                  SETELAH BEBERAPA TAHUN BERDIRI,,MULAI TAHUN 2009 SAMPAI 2012
YANG TELAH MEMILIKI 3 JURUSAN

KEUANGAN AKUTANSI
                TEKNIK PEMESINAN
              TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN


PADA TAHUN INI TANGGAL 26 MEI 2012..SMK UNGGULAN DINYATAKAN LULUS 100%
TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN 
ANGKATAN PERTAMA

SEMOGA INI AWAL DARI KESUKSESAN SMK UNGGULAN NU MOJOAGUNG
DI BAWAH NAUNGAN 
PONDOK PESANTREN MIFTAHUS SA'ADAH
&
MAJLIS WAKIL CABANG KECAMATAN MOJOAGUNG JOMBANG



Turut mengucapkan :
1.  SMP Unggulan NU Mojoagung
2.  Play Group Tunas Harapan 
3.  Pondok Pesantren Miftahus Sa'adah
4.  Majlis Wakil Cabang Kec. Mojoagung
5.  Balai Pengobatan Sayyid Abdur Rohman



Tuesday, 5 June 2012

Mbah Yai Ihsan Jampes


Syaich Ihsan Jampes

Syaikh Ihsan lahir pada 1901 M. dengan nama asli Bakri, dari pasangan KH. Dahlan dan Ny. Artimah. KH. Dahlan, ayah Syaikh Ihsan, adalah seorang kiai yang tersohor pada masanya; dia pula yang merintis pendirian Pondok Pesantren Jampes pada tahun 1886 M.
Tidak banyak yang dapat diuraikan tentang nasab Syaikh Ihsan dari jalur ibu. Yang dapat diketahui hanyalah bahwa ibu Syaikh Ihsan adalah Ny. Artimah, putri dari KH. Sholeh Banjarmelati-Kediri. Sementara itu, dari jalur ayah, Syaikh Ihsan adalah putra KH. Dahlan putra KH. Saleh, seorang kiai yang berasal dari Bogor Jawa Barat, yang leluhurnya masih mempunyai keterkaitan nasab dengan Sunan Gunung jati (Syayrif Hidayatullah) Cirebon.
Terkait dengan nasab, yang tidak dapat diabaikan adalah nenek Syaikh Ihsan (ibu KH. Dahlan) yang bernama Ny. Isti’anah. Selain Ny. Isti’anah ini memiliki andil besar dalam membentuk karakter Syaikh Ihsan, pada diri Ny. Isti’anah ini pula mengalir darah para kiai besar. Ny. Isti’anah adalah putrid dari KH. Mesir putra K. Yahuda, seorang ulama sakti mandraguna dari Lorog Pacitan, yang jika urutan nasabnya diteruskan akan sampai pada Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram pada abad ke-16. Itu dari jalur ayah. Adapun dari jalur ibu, Ny. Isti’anah adalah cicit dari Syaikh Hasan Besari, seorang tokoh masyhur dari Tegalsari Ponorogo yang masih keturunan Sunan Ampel Surabaya.
Berikut bagan nasab Syaikh Ihsan Jampes
Ny. Isti’anah + KH. Saleh
Pertumbuhan dan Rihlah ‘Ilmiah
Syaikh Ihsan kecil, atau sebut saja Bakri kecil, masih berusia 6 tahun ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Setelah perceraian itu, Bakri kecil tinggal dilingkungan pesantren bersama sang ayah, KH. Dahlan, dan diasuh oleh neneknya, Ny. Isti’anah.
Semasa kecil, Bakri telah memiliki kecerdasan pikiran dan terkenal memiliki daya ingat yang kuat. Ia juga tekun membaca buku, baik yang berupa kiatab-kitab agama maupun bidang lain, termasuk majalah dan Koran. Selain itu, satu hal yang nyeleneh adalah kesukaannya menonton wayang. Di mana pun pertunjukan wayang digelar, Bakri kecil akan mendatanginya; tak peduli apakah seorang dalang sudah mahir ataukah pemula. Karena kecerdasan dan penalarannya yang kuat, ia menjadi paham benar berbagai karakter dan cerita pewayangan. Bahkan, ia pernah menegur dan berdebat dengan seorang dalang yang pertujukan wayangnya melenceng dari pakem.
Kebiasan Bakri kecil yang membuat risau seluruh keluarga adalah kesukaannya berjudi. Meski judi yang dilakukan Bakri bukan sembarang judi, dalam arti Bakri berjudi hanya untuk membuat kapok para penjudi dan Bandar judi, tetap saja keluarganya merasa bahwa perbuatan Bakri tersebut telah mencoreng nama baik keluarga. Adalah Ny. Isti’anah yang merasa sangat prihatin dengan tingkah polah Bakri, suatu hari mengajaknya berziarah ke makam para leluhur, khususnya makam K. Yahuda di Lorog Pacitan. Di makam K. Yahuda inilah Ny. Isti’anah mencurahkan segala rasa khawatir dan prihatinnya atas kebandelan cucunya itu.
Konon, beberapa hari setelah itu, Bakri kecil bermimpi didatangi oleh K. Yahuda. Dalam mimpinya, K. Yahuda meminta Bakri untuk menghentikan kebiasaan berjudi. Akan tetapi, Karena Bakri tetap ngeyel, K. Yahuda pun bersikap tegas. Ia mengambil batu besar dan memukulnya ke kepala Bakri hingga hancur berantakan. Mimpi inilah yang kemudian menyentak kesadaran Bakri; sejak saat itu ia lebih kerap menyendiri, merenung makna keberadaannya di dunia fana.
Setelah itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia keluar dari pesantren ayahnya untuk melalalng buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Beberapa pesantren yang sempat disinggahi oleh Bakri diantaranya:
1.      Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri),
2.      Pondok Pesantren Jamseran Solo,
3.      Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang,
4.      Pondok Pesantren Mangkang Semarang,
5.      Pondok Pesantren Punduh Magelang
6.      Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk,
7.      Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para Ulama’.
Yang unik dari rihlah ‘ilmiah yang dilakukan Bakri adalah bahwa ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik dari KH. Kholil Bangkalan, ia hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar falak kepada KH. Dahlan Semarang ia hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Peantren Jamseran ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan ‘memboyong’ ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.
Satu lagi yang unik, di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu ‘menyamar’. Ia tidak mau dikenal sebagai ‘gus’ (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, ‘menghilang’ dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain.
Mengasuh Pesantren dan Masyarakat
Pada 1926, Bakri menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah, namanya diganti menjadi Ihsan. Dua tahun kemudian, Ihsan berduka karena sang ayah, KH. Dahlan, dipanggil oleh Allah SWT. Semenjak itu, kepemimpinan PP Jampes dipercayakan kepada adik KH. Dahlan, yakni KH. Kholil (nama kecilnya Muharror). Akan tetapi, dia mengasuh Pesantren Jampes hanya selama empat tahun. Pada 1932, dengan suka rela kepemimpinan Pesantren Jampes diserahkannya kepada Ihsan. Sejak saat itulah Ihsan terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes.
Ada banyak perkembangan signifikan di Pesantren Jampes setelah Syaikh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun (semula ± 150 santri menjadi ± 1000 santri) sehingga PP Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Mafatihul Huda pada 1942.
Sebagai seorang kiai, Syaikh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk ‘diabdikan’ kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jama’ah, shalat malam, muthola’ah kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, ternyata Syaikh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syaikh Ihsan dikenal memiliki lmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syaikh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah yang meminta bantuannya.
Pada masa revolusi fisik 1945, Syaikh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. PP Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda; di Pesantren Jampes ini, mereka meminta doa restu Syaikh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syaikh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih pp jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syaikh Ihsan membuka gerbang pesantrenya lebar-lebar.
Wafat dan Warisan Syaikh Ihsan
Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, Syaikh Ihsan dipanggil oleh Allah SWT, pada usia 51 tahun. Dia meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam suthur (kertas: karya-karyanya yang ‘abadi’) maupun dalam shudur (memori: murid-muridnya).
Beberapa murid Syaikh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah: 
(1) Kiai Soim pengasuh pesantren di Tangir Tuban; 
(2) KH. Zubaidi di Mantenan Blitar; 
(3) KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap; 
(4) KH. Busyairi di Sampang Madura; 
(5) K. Hambili di Plumbon Cirebon; 
(6) K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.
Sumbangan Syaikh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syaikh Ihsan, khususnya masterpiecenya, siraj ath-Thalibin, terutama ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab- al-Halab. Sayangnya, di antara kitab-kitab karangan Syaikh Ihsan, baru siraj ath-Thalibinlah yang mudah didapat. Itu pun baru dapat dikonsumsi oleh masyarakat pesantren sebab belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Berikut daftar karya Syaikh Ihsan Jampes yang terlacak:
1.      Tashrih al-Ibarat (syarah dari kitab Natijat al-Miqat karya KH. Ahmad Dahlan Semarang), terbit pada 1930 setebal 48 halaman. Buku ini mengulas ilmu falak (astronomi).

2.    Siraj ath-Thalibin (syarah dari kitab Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali), terbit pada 1932 setebal ± 800 halaman. Buku ini mengulas tasawuf

3.    Manahij al-Imdad (syarah dari kitab Irsyad al-‘Ibad karya Syaikh Zainudin al-Malibari), terbit pada 1940 setebal ± 1088 halaman, mengulas tasawuf.

4.      Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan (adaptasi puitik [plus syarah] dari kitab Tadzkirah al-Ikhwan fi Bayani al-Qahwah wa ad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang), t.t., tebal ± 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hokum merokok dan minum kopi.

(Dihimpun dari berbagai sumber, terutama dari buku “Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi al-Kediri” karya KH. Busyro A. Mughni [t.p., t.t.] dan buku “Jejak Sepiritual Kiai Jampes” karya Murtadho Hadi [Pustaka Pesantren, 2007]) [dje]

Monday, 4 June 2012

KH. Ali Shodiq (Pendiri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadien Ngunut Tulungagung)



K.H ALI SHODIQ UMMAN
(Pendiri Pondok Pesantren  Hidayatul Mubtadien Ngunut Tulungagung)


KH. Ali Shodiq Umman
ALI SHODIQ,demikian nama aslinya,lahir sekitar tahun 1929 m di gentengan link IV Ngunut,sebuah kota industri yang berada di sebelah timur dan termasuk wilayah Tulungagung,di mana masyarakat Ngunut waktu itu sangat minim pengetahuan agamanya atau boleh di katangan abangan, ayahnya pak uman adalah kurir dokar yang sederhana dan taat beribadah,dan ibunya ibu marci,pasangan suami istri yang datang dari Leran kec Manyar kab Gresik ini sangat mendambakan seorang anak yang 'alim 'allamah dalam masalah agama,Sehingga pak uman sangat senang dan hormat kepada kiyai dan santri-santri,setiap santri yang menumpang dokar beliau,beliau siap mengantar kemana santri itu pergi tanpa memungut upah darinya.





DI ASUH PAMAN DARI IBU

ALI SHODIQ adalah anak ke 7 dari 18 bersaudara,namun yang hidup hingga dewasa adalah 10 orang,masing-masing adalah INTIAMAH, M. SYARIF, MARKATAM, ABDUL SYUKUR, ABDUL GHONI, UMI SULKAH, ALI SHODIQ, AMINI, KHOIRUL ANAM dan MARZUKI, sedangkan yang 8 wafat ketika masih kecil sehingga tidak jelas namanya. Sejak umur sepasar (lima hari) beliau di asuh paman beliau,pak tabut yang masih adik ibu marci,seorang pedanggang batik dan pemborong palawija yang cukup mapan perekonomiannya,beliau tinggal bersama istrinya ibu urip dari olak alung ngunut yang konon daerah ini merupakan daerah basis pki tepatnya di jln raya 1no 34 ngunut yang sekarang menjadi

PONDOK PESANTREN HIDAYATUL MUBTADIIEN

Beliau sangat di sanyang oleh bpk Tabut dan istrinya ibu Urip,yang tidak di karuniai seorang anakpun. Dalam momongan pak tabut ALI SHODIQ kecil hidup dalam kecukupan,segala keinginan terpenuhi, sejak itu pula beliau sangat suka dengan kuda, namun di balik itu semua beliau yang masih muda merasa prihatin dengan keadaan/kondisi masyarakat Ngunut yang dalam pola hidupnya jauh dari nilai-nilai agama. Hingga sejak kecil beliau mulai belajar mengeja huruf-huruf Al-Qur'an dan cara-cara beribadah kepada bpk Mahbub di Kauman, Ngunut.

Setelah menamatkan sekolah rakyat,beliau mulai melanglang dari satu pesantren ke pesantren lainnya selama 26 tahun. Di awali dari pondok krapyak Yogyakarta,beliau di sini tidak begitu lama,kemudian beliau nyantri di pondok Jampes yang waktu itu di asuh oleh K.H. IHSAN DAHLAN, seorang 'ulama ahli tasawuf pengarang kitab SHIROJUT THOLIBIN, sebuah syarah dari kitab MINHAJUL 'ABIDIN karya IMAM GHOZALI, di mana sampai sekarang kitab tersebut populer di kalangan pesantren, bahkan menjadi literatur wajib di universitas al-Azhar Mesir.

Sepeninggal kyai ihsan beliau pindah ke pondok Lirboyo Kediri,untuk bulan puasa beliau sering mondok di Tertek Pare Kediri yg di asuh oleh K.H JUWAINI dan pernah juga ke Mojosari Nganjuk asuhan K.H ZAINUDDIN ,juga pernah tabarukan ke pondok Tebu ireng Jombang asuhan K.H H ASYIM ASY'ARI dan pada K.H MA'RUF Kedonglo Kediri. 

Sewaktu beliau masih mondok di jampes kediri, beliau meminta kepada ibu angkat beliau mbah Urip untuk mendirikan sebuah langgar kecil yang kelak kemudian menjadi cikal bakal berdirinya PONDOK PESANTREN HIDAYATUL MUBTADIIEN.

DARI LIRBOYO KE PELAMINAN

Menurut K.H IHSAN (pengasuh ponpes abul faidl bakalan wonodadi blitar) setelah K.H IHSAN jampes wafat sekitar tahun 1952,K.H ALI SHODIQ UMMAN pindah ke ponpes Lirboyo yang waktu itu masih di asuh oleh K.H ABDUL KARIM, di waktu beliau mondok di sinilah,a da peristiwa yang penting yakni sekitar tahun 1958, ada seorang kyai dari Mbaran Kediri, yakni K.H UMAR SUFYAN yang menghendaki beliau sebagai menantu untuk di jodohkan dengan putri beliau yang bernama H AULIYAH (setelah ibadah haji di ganti menjadi HJ.SITI FATIMATUZZAHRO') yang waktu itu masih berumur 7 tahun. Akad nikahpun di laksanakan dengan sederhana namun cukup meriah, hari bahagia nan penuh berkah,akad nikah seorang kyai dengan putri seorang kyai berlangsung jua,dengan di antar beberapa santri Lirboyo,beliau berangkat dari ponpes lirboyo menuju baran ke mertua beliau.

SANTRI YANG TEKUN

Di mata kawan sesama santri K.H ALI SHODIQ muda di kenal sebagai santri yang tekun cerdas dan sangat ta'dhim (hormat) kepada guru-guru beliau,Hingga beliau menjadi kiyai kharismatik di wilayah tulungagung beliau masih ta'dhim kepada dzuhrriyah-dzuhrriyahnya. Walopun mereka sudah berada di alam kubur,bahkan ketika sowan ziyaroh ke makam guru-guru beliau melepas sandal dan berjalan dengan jongkok,setiap beliau mbalah (mengaji kitab) selalu mencari waktu yang tidak bersamaan dengan qori' atau pengkaji yang lain,yaitu di atas jam 12:00 malam yang biasa bertempat di panggung lama atau di AL-IKHWAN karena biasanya beliau banyak di minati santri,akhirnya para qori' yang lain sepi dari pengikut jika di lakukan bersamaan.

Beliau juga di kenal sebagai AHLI TAHQIQ, sebab setiap mau mbalah jika belum memahami apa yang akan di kaji beliau tidak jadi melakukan dan menunggu sampe faham betul terhadap hal yang akan di kaji oleh beliau tersebut, juga beliau sering mengikuti satu kitab secara berulang-ulang, dengan setiap ikut kitabnya selalu baru,menurut pak ghufron(salah seorang teman sekaligus santri beliau) ketekunan beliau sulit di gambarkan sehingga tidak pernah di ketahui kapan beliau tidur seakan-akan waktu hanya di curahkan untuk mathala'ah yang bahkan beliau sering ketiduran dalam keadaan mathala'ah atau belajar,beliau juga menyoroki (mengajar menmbaca) al-qur'an para santri yang bertempat di kamar beliau pada waktu setelah jama'ah magrib sampe lonceng sekolah berbunyi.

Hari-hari senantiasa di lewati dengan berpuasa dan beliau juga seorang qona'ah terbukti dengan makan beliau sedikit dan seadanya sesuai dengan yang di sajikan oleh juru masak beliau,sampe-sampe dalam sehari-seharinya beliau memakai bengkungan di perut yang sangat kencang di karenakan sedikitnya makan walopun menurut beliau sering juga di beri uang saku oleh keluarga padahal uang saku bulan sebelumnya belum habis,satu hal lagi yang menunjukan ketekunan dan himmah beliau dalam tholabul ilmi adalah walopun beliau sudah meningkah beliau tetap mukim di PONPES LIRBOYO kediri,sebab di samping untuk memperdalam ilmu tenaga dan fikiran beliau masih di perlukan di sana,Hanya saja kalau memasuki BULAN ROMADLON beliau mengadakan pengajian pasan di mbaran kediri,rumah mertua beliau.

Sekitar tahun 1958 pengajian pasan pertama yang di adakan di mbaran di ikuti oleh 7 orang santri lirboyo dan pada tahun berikutnya di ikuti oleh 40 santri,hal ini berlangsung selama beberapa tahun hingga tahun 1966,Selama itu beliau telah menamatkan kitab SIROJUT THOLIBIN karya K.H IHSAN JAMPES yang menjadi guru beliau sendiri dan beberapa kitab kuning ,karya ulama terkenal lainya. Bahkan pernah membaca kitab MUHADZDZAB khatamnya sudah pada tgl 1 syawal pukul 01 siang.

MENDIRIKAN PONDOK PESANTREN

Pada tahun 1967 K.H ALI SHODIQ UMMAN dengan berat hati pindah ke ngunut meninggalkan mbaran untuk mengemban amanat dan tugas dari guru beliau sewaktu nyantri di lirboyo yakni K.H MARZUQI DAHLAN dan K.H MAHRUS ALI untuk mengembangkan ilmu beliau dan mendidik masyarakat ngunut yang waktu itu masih belum mengenal ajaran islam(abangan). Pada masa perintisan aktivitas dakwah beliau di pusatkan di sebuah langgar kecil yang telah di dirikan pak tabut,juga ikut mengajar di PGA Ngunut (sekarang SMP 1 Ngunut).

Tantangan dan rintangan datang silih berganti terutama dari masyerakat sekitar yang masih buta agama,Teror fisik atau teror yang bersifat non fisik / rohani(jengges/santet) tak henti-henti,tetapi dengan penuh kesabaran beliau tetap menyiarkan AGAMA ALLAH. Bukti kesabaran beliau terlintas dalam sebuah kejadian,pada saat pondok mengadakan sebuah acara yang di hadiri oleh K.H MAHRUS ALI lirboyo,pada saat itu beliau (K.H MAHRUS ALI) berkenan ke kamar kecil,beliau melihat masyarakat di sekitarnya melakukan kegiatan yang mengganggu acara tersebut dan pengajian rutin yang di selenggarakan setiap hari,K.H MAHRUS ALI berkata"mbok di hizib nashor wae,ben ndang bar" lalu K.H ALI SHODIQ menjawab "ingkang kawulo rantos anak putu nipun" Dengan di ikuti 50 santri dari lirboyo pengajian pasan pertama di laksanakan dengan penuh hidmah,Hingga 4 tahun kemudian beliau berhasil menamatkan kitab 'IHYA ULUMUDDIN karya HUJJATUL ISLAM IMAM GHOZALI.

Pada bulan syawal tahun yang sama pengajian sistem klasikal dan non klasikal mulai di terapakna walopun dengan materi pelajaran yang masih sederhana sesuai dengan kemampuan santri yang ada,pada tahun berikutnya jumlah santri bertambah,terutama santri senior lirboyo dan dari daerah ngunut dan sekitarnya,sehingga K.H ALI SHODIQ menetapkan TGL 01 JANUARI 1967 bertepatan dengan TGL 21 ROJAB 1368 sebagai hari berdirinya PONPES HIDAYATUL MUBTADIIEN sebuah nama yang di ambil dari ponpes lirboyo dengan niat TAFA'ULAN(ngalap ketularan).sejak saat itulah sistem pendidikan di PONPES HIDAYATUL MUBTADIIEN mulai di tata dan bisa berjalan sampai sekarang.

Untuk mempermudah penyampean materi dan untuk menertipkan pengorganisasian jenjang pendidikan PONPES HIDAYATUL MUBTADIIEN di bagi menjadi dua tingkatan,IBTIDA'IYAH dan TSANAWIYAH. Waktu pun terus berjalan,zaman semakin berkembang,iptek semakin canggih namun di lain fihak dengan perkembangan ini timbul pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakt,untuk itu di butuhkan deneresi ISLAM yangintelek dan berwawasan luas sehingga KH ALI SHODIQ UMMAN di samping mengembangkan lembaga pendidikan yang sudah ada,yaitu PONPES HIDAYATUL MUBTADIIEN putra dan putri murni mempelajari kitab kuning,beliau juga mendirikan pondok kanak-kanak dengan pendidikan formal SDI SUNAN GIRI,PONPES PUTRA SUNAN GUNUNG JATI,PONPES PUTRI SUNAN PANDAN ARAN yang menampung santri yang belajar di smpi dan smui sunan gunung jati. Langkah yang di ambil K.H ALI SHODIQ UMMAN mendapat smbutan hangat dari masyarakat,terbukti banyak masyarakat yang menyekolahkan dan memondokkan putra putrinya di lembaga yang di asuh oleh beliau.Dan untuk mempermudah pengelolaan lembaga tersebut pada TGL 03 DESEMBER 1992 atas inisiatif K.H ALI SHODIQ UMMAN di bentuklah YAYASAN SUNAN GIRI yang terdaftar di kantor pengadilan negri tulungagung denga nomor 14/X/92/PN/TA.

Begitulah perjuangan beliau yang tak kenal lelah guna mempersiapkangenerasi islam yang menghadapi tantangan zaman.bukan hanya pendidikan saja yang K.H ALI SHODIQ UMMAN perhatikan,dalam tuntunan hidup sehari-hari beliau sering memberikan mau'idzoh hasanah dengan tutur bahasa yang khas"CHO NENG NGENDI WAE AWAKMU MANGGONOJO LALI KARO PESENKU,
  1. AKHLAQUL KARIMAH,
  2. PINTER-PINTER NDELEHNO AWAK,
  3. NGEKEH-NGEKEHNO BALI MARI ALLAH


Beliau sangat sabar dan istiqomah dalam mendidik santri-santrinya,setiap pagi beliau dengan halus membangunkan santri-santinya dari satu kamar ke kamar lainnya untuk jama'ak shubuh,karena beliau dalam membina santri-santrinya sangat menekankan sholat jama'ah.

JAMA'AH DENGAN DI PAPAH

Setelah menunaikan ibadah haji yang ke tiga kali,tahun 1997 kondisi kesehatan K.H ALI SHODIQ UMMAN sering terganggu,maklum usia beliau mulai beranjak sepuh. Sementara tugas sebagai pengasuh yang kian berkembang pesat cukup menyita waktu,tenaga dan fikiran beliau.Akan tetapi yang cukup menyedihkan kesehatan kiyai mulai menurun,sehingga kaki beliau tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya sehingga untuk menjalankan tugas sehari-harinya,memberi pengajian,menjadi imam jama'ah beliau harus di papah oleh satu ato dua orang santri. Akan tetapi berkat kesabaran K.H ALI SHODIQ UMMAN hari-hari beliau yang panjang itu di lalui dengan tabah,malahan beliau tidak pernah meninggalkan tugas yang beliau emban.

SABTU KELABU

Pada hari jum'at 23 JULI 1999 K.H ALI SHODIQ UMMAN jatuh sakit dan kemudian di bawa ke RSI ORPEHA tulungagung,beliau di rawat di pavilium arafat,perawatan intensif terus menerus di lakukan,namun keadaan pun tak semakin membaik,akhirnya atas kesepakatan keluarga dan saran dari pihak kedokteran RSI ORPEHA ,pada hari RABU 10 AGUSTUS 1999,beliau di bawa RS DARMO surabaya. Selama 4 hari beliau menjalani opname di surabaya,namun kondisi beliau tak kunjung membaik,bahkan harapan untuk kesembuhan kian tipis,hingga pada hari SABTU 14 AGUSTUS 1999 pukul 10.00 BBWI (pagi) rupanya ALLAH SWT,telah menggariskan untuk memanggil K.H ALI SHODIQ UMMAN ,sehingga di pagi yang cerah itu dengan KHUSNUL KHOTIMAH beliau kembali ke hadiratnya,INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI'UN. Beliau wafat pada usia 71 tahun dengan meninggalkan seorang istri(yang pada akhirnya 7 bulan kemudian menyusul),9 putra putri (6 pitra dan 3 putri),serta 12 cucu laki-laki dan perempuan. Berita wafatnya K.H ALI SHODIQ UMMAN di terima keluarga di ngunut jam 11.00 pagi lewat telfon dan 30 menit kemudian orang-orang yang melayat mulai berdatangan,mereka menggu kedatangan jenazah K.H ALI SHODIQ UMMAN sambil berdzikir,jenazah tiba di ngunut pukul 16.00 BBWI. Keesokan harinya (ahad) pukul 10.00 BBWI setelah di lakukan sholat janazh sebanyak 47 kali,lalu jenazah beliau di makamkan di makam keluarga di sebelah barat MASJID SUNAN GUNUNG JATI,sampai di liang lahat jenazah beliau di sambut oleh menantu beliau K.H DARORI MUKMIN, K.H MAHRUS MARYANI, dengan di sertai putra beliau KH AGUS BADRUL HUDA ALI, K.H AGUS IBNU SHODIQ ALI, K.H ADIB MINANURROHMAN ALI, AGUS MINANURROHIM ALI.

Beliau pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya,menggoreskan kenangan,meninggalkan sebongkah jasa untuk kita,beliau menuju alam damai dan abadi, SEMOGA ALLAH SELALU MERIDLOI BELIAU DAN MELAPANGKAN KUBUR BELIAU...AMIN..

BEBERAPA KEISTIMEWAAN K.H ALI SHODIQ UMMAN

Pada waktu MBAH KYAI ALI SHODIQ menjadi kepala pondok LIRBOYO,saat ada acara rapat umum tahun ajaran baru bertepat di serambi,sudah menjadi hal yang wajar dan lumrah bila semua santri berkumpul calam satu majlis suasana ramai dan ricuh,pada waktu itu pengurus memberi arahan/membacakan peraturan-peraturan pondok pada santri baru,para santri bersorak-sorai,ramai dan sangat ricuh,setelah itu MBAH KYAI melewati sebelah barat santri yang ramai,para santri seketika terdiam. MBAH KYAI ALI SHODIQ seorang pencak yang sangat mumpuni,beliau salah satu murid kesanyangan dan andalan MBAH KYAI ALI SHODIQ BAHRI TANEN. MBAH KYAI ALI SHODIQ seorang yang sangat sakti / jaduk,tapi beliau sangat pandai dan rapat dalam menutupi dan menyimpan hal tersebut.

Ada cerita bersumber langsung dari MBAH KYAI ALI SHODIQ yang dawuh pada salah satu momongan beliau"MBAH KYAI baru saja pindah pondok dari jampes ke lirboyo,pada waktu itu ada kekosongan,mustahiq kelas III tsanawiyah (jauhar maknun),sebelumnya beliau bermimpi di ajak oleh K.H MARZUKI DAHLAN tetapi dawuhe MBAH KYAI terbangnya K.H MARZUKI selalu di atas MBAH KYAI,sampai-sampai K.H MARZUKI tidak kelihatan dan MBAH KYAI selalu di bawahnya,pada akhirnya MBAH KYAI di utus menjadi mustahiq kelas III tsnawiyah,padahal beliau mengaku belum pernah belajar dan mengaji JAUHAR MAKNUN,berkat kelimpatan,ketekunan dan rasa tawadlu' beliau terhadap guru,pada akhirnya beliau dapat menjadi mustahiq kelas III tsanawiyah tersebut,yang di antara santri kelas itu putra K.H MARZUKI yakni AGUS IDRIS MARZUKI." Setiap MBAH KYAI tidur sore beliau pesan agar di bangunkan pada waktu jama'ah atau waktu mengaji,kepada salah seorang khodim dekat beliau dengan memakai 1 jari dengan 3 ketukan ringan,dan setiap jari tangan menyentuh kaki atau tangan beliau,beliau langsung memukul apa saja yang ada di dekatnya,sampai-sampai dinding kamar kan roboh. Begitulah haliyah K.H ALI SHODIQ UMMAN yang tidak di miliki oleh orang lain.